Baliage [dot] wordpress [dot] com

Dari Bali menuju LovINA

Bali,Pulau Seribu Villa

Posted by I N Ady Mulianto pada April 28, 2008

Halo teman2 semua,gimana kabarnya?baik2 aja kan..!!gutgut..!!Mudah2an moodku sekarang udah normal lagi,dan bisa update postingan lagi,Makasi ya buat teman2 semua yang udah kasi koment di blogku ini,khususnya pada postinganku yang sebelumnya ini.Ternyata beragam komentar dari teman2 mengenai gambar2 yang saya tampilkan disitu.Ada yang senang dengan adanya banyak vila dan berharap bisa memberi kontribusi positif buat masyarakat setempat,dan ga sedikit pula yang prihatin melihat semakin banyaknya tumbuh villa2 di daerah yang merupakan daerah resapan air.Ga papa,pro dan kontra atas sesuatu hal itu wajar.

Terlepas dari pandangan positif dan negatif dari pembangunan villa2 di Bali yang kini sudah semakin gencar seharusnya masyarakat lah yang lebih tanggap akan hal ini.Pembangunan villa2 itu menguntungkan atau tidak,menguntungkan dalam hal ini bukan hanya menguntungkan jangka pendek saja tetapi jangka panjang juga harus di perhatikan.Supaya jangan sampai ini menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak.Dan juga pembangunan villa itu tidak hanya menguntungkan para investor yang semakin hari semakin menguasai Bali.

Coba kita lihat sekarang di daerah Canggu,sawah2 kini sudah banyak beralih fungsi menjadi Villa2. Apakah masyarakat disana mendapat keuntungan atas semua itu?jawabnya mungkin ya.Masyarakat untung karena bisa menjual tanahnya dengan harga tinggi dan dengan banyaknya berdiri villa disana juga membuka lapangan kerja bagi masyarkat sekitar.Begitupula dengan tempat tempat lain di Bali.Tapi apakah itu bisa bertahan lama?Ditengah pariwisata Bali yang kini mulai pulih perlahan2 ini mungkin memberi kontribusi positif bagi masyarakat,tapi apakah itu bisa terus menjanjikan?Pengalaman masa lalu kasus bom Bali yang sempat memporakporandakan kehidupan ekonomi masyarakat Bali mungkin bisa menjadi pelajaran.Pariwisata lesu,banyak masyarakat kehilangan pekerjaan karena hanya mengandalkan pekerjaan di sektor pariwisata saja.Belum lagi masalah lain yang ditimbulkan oleh semakin banyaknya terjadi alih fungsi lahan,lahan pertanian semakin berkurang,ketersediaan air semakin berkurang,pencemaran lingkungan semakin bertambah,dan masih banyak lagi masalah sosial yang terjadi.

Tidak hanya di daerah Canggu pembanguan villa yang sudah seperti cendawan tumbuh di musim hujan,Investor kini sudah tidak hanya menyasar daerah pantai saja tetapi daerah pegunungan pun kini menjadi daerah jajahan para investor.Di sepanjang kaki bukit di Bedugul yang dulunya pernah terjadi longsor kini sudah banyak berdiri villa2 mini yang kini katanya malah tidak produktif dan bila dilihat dari kejauhan seperti bercak2 hitam diantara hijaunya pepohonan disana.Dan bahkan kini diatas Danau Buyan yang notabene merupakan daerah resapan air kini malah akan berdiri mega proyek sebuah villa yang sangat mewah,meskipun proyek ini perijinannya katanya belum jelas.”ko bisa?”. Ditengah masyarakat Bali yang kini sudah mulai kekurangan air tetapi ada orang yang tertawa lebar diatas penderitaan masyarakat Bali.

Belum jelas kelanjutan kasus perijinan villa di atas Danau Buyan itu,dalam waktu yang bersamaan desa tetangga saya yaitu Desa Mengesta tepatnya Dusun Wangaya Betan juga sudah dikuasai oleh investor.“Vitta Life Resort” akan berdiri megah disana meskipun katanya pembangunan villa itu belum mendapat persetujuan dari warga setempat.Dan anehnya lagi,masyarakat belum setuju tetapi peletakan batu pertama justru dilakukan oleh Bupati Tabanan.Apa ini uang yang bicara ya pak bupati?.Daerah kawasan suci Uluwatu pun kini juga menjadi incaran para investor,Jarak 5 kilometer dari areal pura menjadi zone kawasan suci kini malah diperdebatkan untuk dipangkas menjadi 1 kilometer supaya para investor dengan leluasa bisa membangun di kawasan yang berada di atas bukit yang memiliki pemandangan pantai yang sangat eksotis itu.Apakah ini keinginan dari masyarakat Uluwatu? rasanya ini hanya keinginan oknum yang berusaha memanfaatkan kesempatan dikala pariwisata Bali kini mulai menggeliat lagi dan berusaha mengatasnamakan masyarakat uluwatu.Dan masih banyak lagi tempat2 di Bali yang dulunya lahan produktif pertanian kini banyak yang berubah menjadi bangunan villa2.

Pemerintah ataupun Dewan yang berkompeten atas hal ini seharusnya segera mengambil langkah2 tegas atas kasus2 seperti ini.Supaya kebijakan yang diambil tidak hanya menguntungkan sebagian orang ataupun investor asing saja,sementara masyarakat menjerit tidak ada yang memperhatikan. Gimana masyarakat bisa sejahtera bila kebijakan yang diambil lebih mementingkan kepentingan ekonomi sepihak daripada kepentingan masyarakat banyak,dan pola pembangunannya juga tidak memperhatikan pola pembangunan tata ruang.Bali yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang asri dan alami jangan sampai dirusak oleh pemandangan bangunan2 liar yang hanya menguntungkan sebagian pihak saja.Apa mau,Bali yang terkenal dengan jargonnya Pulau Seribu Pura kini menjadi Pulau seribu Villa?

23 Tanggapan to “Bali,Pulau Seribu Villa”

  1. ick said

    pertamax… [tulis dulu ntar baru koment}

    Suka

  2. ick said

    kayaknya kalao pajak untuk kepemilikan lahan/tanah di turunin, mungkin si empunya tanah akan berpikir dua kali buat ngejual tanahnya…

    Suka

  3. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://bali-nusa-tenggara.infogue.com/bali_pulau_seribu_villa

    Suka

  4. anton said

    waaah, kok ide kita sama soal villa2 ini ya.🙂

    memang seneng sih banyak villa. sayangnya sebagian besar mmg dibangun di kawasan hijau. ini yg menyedihkan. mungkin tinggal nunggu alam murka aja.

    Suka

  5. dede said

    dilema bagi penduduk bali, disatu sisi dituntut untuk memenuhi segala kebutuhan idupnya hingga harus jual atau sewa tanahnya ke investor utk dijadikan villa, satu sisi harus melestarikan alam bali, seharusnya pemda bisa buat kebijaksanaan yang lebih memihak rakyat yang tidak mampu bayar pajak tanah kalau tidak disewakan atau dijual………..bagi saya keberadaan villa juga dilema karena penghasilan tambahan sebagai broker, he..he….eh ngomong2 adi punya info villa dijual nggak?

    Suka

  6. ghozan said

    susah untuk dikendalikan karena kebanyakan orang bali memiliki warisan tanah yang kalo dijual bisa jadi jutawan bahkan miliarder… daripada kerja susah2 mending jual tanah kan? duh, sepuluh tahun lagi kayak gmana yah bali ini? kasian deh anak2 kita…

    Suka

  7. Elys Welt said

    jadi pengin ke Bali lagi nih, pengin tahu keadaannya sekarang , thanks ceritannya ya🙂

    Suka

  8. Ick: pajak yg tinggi memang salah satu faktor juga yg nyebabin masyarakat ngejual tanah bro..

    Senopati: thanks bro tawarannya…

    Anton: Inilah dampak dari otonomi daerah yg kebablasan..,pemkab seenaknya aja buat kebijakan,asal dapat uang lahan hijau pun juga dibabat..

    Dede: Memenuhi kebutuhan hidup kan tidak mesti menjual tanah bro..,apalagi yang namanya tanah warisan.bisa kualat nanti.
    memang dalam hal ini pemerintah harus tegas dalam menerapkan aturan yg sudah menjadi ketetapan.,jangan mentang2 ada uang broker/investor disayang..

    Ghozan: Sepuluh tahun lagi mungkin anak cucu kita ga tau yang namanya pohon jati..,atau pohon kelapa bro..(miris)

    Elys Welt: Ga usah ngebayangin bali yang bagus2 aja ya,bayangin gimana Bali yang udah mulai “terjajah” mba.

    Suka

  9. Ady said

    Masalahnya muncul ketika kebutuhan tidak berimbang dengan kemampuan, akhirnya semua berusaha mencari keseimbangannya masing masing. Mudah2an keseimbangan Bali tetap terjaga… tetap sakral dan metaksu…😉

    “Betul bro..,ditengah perekonomian bangsa yang tidak kondusif memang kemampuan kita tidak bisa memenuhi kebutuhan kita,tp selama kita bisa menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani saya yakin pasti ada jalan..”

    Suka

  10. ekads said

    vila vila dan vila lagi….

    “emang kenapa bro..??kerjaan jadi broker villa jadi terasa diganggu ya..??” 😆

    Suka

  11. Diah said

    Sudah mulai banjir-banjir belum ni Bali? Karena daerah resapan air berkurang akibat vila-vila yang menjamur…

    “Kalo banjir sih udah biasa di denpasar mba,tp ga separah Jakarte.Mudah2an ini ga terus2an terjadi”

    Suka

  12. proletarman said

    selain melawan rongrongan dari luar, Bali harus menghadapi ketidakkonsistenan dari dalam… Sayang sekali Bali sendiri tidak siap dengan kedua rongrongan tersebut. Jadi kalau budaya Bali punah, berarti bukan salah siapa-siapa. Itu salah kita semua….

    “betul bro…,emang salah kita juga.tp kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu kan masih ada.
    kita sebagai masyarakat Bali jangan terlalu mudah terbuai dengan predikat2 yg wah yg diberikan oleh orang lain yg tanpa disadari justru semakin ingin menguasai Bali.sementara masyarakat Bali tidak pernah bisa menikmati hasilnya dari predikat2 tersebut.pembaca pasti ngerti maksud saya”

    Suka

  13. Okta Sihotang said

    jadi pengen kesana negh😉

    Suka

  14. winyo said

    hidup villa bli. david villa maksudne, pemain Valencia. sudahlah bli, biarkan saja semua tanah di bali dibuatkan vila. jual aja semua tanah warisan biar orang bali bisa beli mobil semua, biar semua bisa bergaya karena punya mobil. tapi sayang setelah punya mobil orang bali ga bakalan bisa beli bensin karena tanah sawah yang jadi sumber penghasilan sudah dijual. akhirnya … makan tu mobil hahahahaha …

    Suka

  15. aRya said

    wah wah
    seperti na saia pernah ngebahas ini deh
    whhehehehe
    pokok e benci ma ini semua
    huh
    siap2 mengungsi

    Suka

  16. Okta Sihotang: Main ke Bali mas,biar tau Bali yg asli.

    Winyo: Wuahahahahah.. nanti malah jalan2nya pake “tanah becek” ya bli,kacau tuh jadinya.

    Arya: Kalo kita ngungsi,nanti kita malah jadi tamu di negeri sendiri dong bro..

    Suka

  17. Terima said

    Perubahan memang tidak akan terhindarkan, tapi paling tidak perubahan bisa diarahkan untuk tujuan ” Moksartam Jagadhita…., dan terserah sekarang diartikan apa kalimat kuno itu. Jika diartikan harga diri ya harusnya pemimpinnya mengarahkan keadaan real saja, ya ngak!!!

    “Betul bli,Selama pemimpin kita ga konsisten dengan aturan yg sudah dibuat sudah pasti perubahan akan pasti terjadi,dan tidak menutup kemungkinan moksartam jagadita itu sudah tidak ada artinya”

    Suka

  18. ayumi said

    Sekarang Bali sudah dipenuhi dengan villa bukan persawahan seperti dulu. namun jangan juga menyalahkan pemilik tanah yang menjual tanahnya untuk dijadikan villa. seperti saat ini topik hangat adalah soal Pura Uluwatu. kenapa hal itu baru sekarang dipermasalahkan? apakah pihak terkait baru melek dari tidurnya?

    Visit: http://www.tanahlot.net

    “betul mba,dilema juga bagi pemilik tanah kalo memang sudah ga produktif dan biaya pajak tinggi mau diapakan juga,dalam hal ini pemerintah harus lebih jelas dalam melakukan pemetaan pembangunan,jangan asal ada uang lahan hijau juga dibabat..,mau dibawa kemana Bali nanti?”

    Suka

  19. bali, negeri seribu villa..?

    belum seribu, deh, kayaknya, bli..

    hahaha…

    “mudah2an judul postingan saya salah bli….”

    Suka

  20. yudi4bali said

    bali juga terkenal dg pulau seribu pura, pulau dgn seribu dewa, pulau dgn seribu sorga n tentunya pulau dgn seribu pesona… dan jgn salah di bali jg ada seribu liburnya lo…hiii

    Ah… anda tau aja..!! tapi seneng juga kan… 😆

    Suka

  21. jojo said

    saya berpendapat beda dengan semua ini> jadi memang sekarang bali lagi gencar gencar membangun untuk mengejar PAD yang setinggi tinggi nya, tapi disatu sisi saya berdomisili di bali melihat ko” bali ini aneh, gembar gembor untuk menjaga lingkungan penghijuan,bercocok tanam tapi cuman ngomong doang. mungkin kalau bisa kayak nya areal pura juga mau di kontrakan atau di jual buat bangun villa….aneh aneh……
    kalau kita cermati sekarang ini didaerah kuta selatan hampir tidak ada tanah desa atau tanah negara kemana ya?

    Suka

  22. jojo said

    kayaknya untuk perijinan villa , hotel dan kondo harus di tutup dulu ya, soal nya terlalu ramai dan padat. dan kalau saya usulkan, pabrik garment,kramik atau industri2 besar lain harus arahkan ke karangasam atau buleleng.

    Suka

  23. : Jojo:
    tengkyu bro komentnya, trus pendapat yang beda dimananya ya?? saya juga seratus persen sependapat dengan anda!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: