Baliage [dot] wordpress [dot] com

Dari Bali menuju LovINA

Dilema Petani di Kota Metro

Posted by I N Ady Mulianto pada Mei 20, 2008

Tidak bisa dipungkiri,alih fungsi lahan di Bali semakin hari sudah semakin memprihatinkan. Banyak lahan pertanian kini sudah berubah menjadi lahan2 industri maupun sudah menjadi lahan untuk pariwisata.Seperti contoh,lahan pertanian di Canggu kini sudah banyak yang berubah fungsi menjadi villa2 untuk peristirahatan para bule2 asing.Dan parahnya lagi hampir semua bangunan mewah itu dimiliki oleh orang asing pula.Di Daerah Bedugul kini sudah banyak juga ditumbuhi villa2 liar yang sudah tidak terbendung lagi pertumbuhannya. Padahal kalo dilihat dari pola pembangunan tata ruang daerah Bedugul seharusnya menjadi daerah resapan air dimana tempat tersebut boleh dibilang sebagai tempat cadangan air untuk Bali.Tetapi kenyataannya disepanjang kaki bukit disana kini sudah semakin gundul dan malah semakin banyak berdiri bangunan villa2 yang sudah seperti cendawan tumbuh di musim hujan.Di wilayah Denpasar lahan pertanian kini juga sudah banyak yang dijadikan jalan raya alternatif yang katanya untuk mengurangi kemacetan dan banyak mengambil lahan pertanian.Dengan semakin banyaknya dibuat jalan raya secara otomatis perubahan di sepanjang jalan raya itu akan terus mengikuti. Lahan yang kosong semakin banyak yang berubah menjadi bangunan2 beton yang berdiri menjulang sebagai lahan bisnis maupun sudah menjadi rumah2 pribadi.Dan masih banyak lagi lahan pertanian di Bali yang kini sudah berubah menjadi fungsi yang lain.

Melihat perubahan yang kini terjadi begitu cepat,sepertinya kita harus membuka mata lebar2 atas fenomena seperti ini.Kalo sudah seperti ini siapa yang patut disalahkan? Pemerintah atau masyarakat kita sendiri?Dikota Denpasar misalnya,dari hari ke hari pembangunan gedung2 semakin terus bertambah dan itu selalu mencaplok lahan pertanian.Lahan yang awalnya sawah kini sudah berubah menjadi bangunan ruko2 atau tempat bisnis lainnya.Sepertinya yang namanya subak di kota Denpasar kini sudah semakin berkurang.Memang sebagian bangunan itu masih merupakan milik dari yang punya lahan pertanian,tetapi hampir sebagian besar alih fungsi lahan itu juga diikuti oleh alih fungsi kepemilikan tanah.Bila hal itu kita tanyakan ke warga beraneka macam jawaban yang akan kita dapatkan.

Ditengah semakin banyaknya warga yang sudah mengalih fungsikan lahannya itu ternyata masih ada warga yang masih ingin mempertahankan sisa lahan pertanian yang mereka miliki.Salah satu penduduk di Panjer yang namanya tidak saya sebutkan disini mengatakan,Sebenarnya mereka tidak ingin merubah lahan pertanian mereka menjadi lahan bisnis yang lain,apalagi kalo sampai dijual,mereka sangat tidak menginginkan hal itu.Tetapi idealisme mereka itu kadang harus dikalahkan oleh keadaan yang tidak mendukung.Mau bertahan terus mengolah lahan pertanian dengan menanam padi atau menanam tanaman pertanian yang lain tetapi mereka menemui banyak kendala dalam mewujudkan niat mereka tersebut.Ketersedian air merupakan kendala utama yang mereka hadapi.Dengan semakin banyaknya berdiri bangunan2 beton dimana pola pembangunan yang terjadi sekarang lebih memperhatikan kepentingan ekonomi dan sudah tidak menghiraukan aturan tata ruang lagi semakin sulit bagi mereka untuk mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka,karena aliran air dari subak yang menjadi andalan mereka kini harus terputus dan menjadi kering.Masa mau menanam padi tapi sawahnya kering? ga mungkin kan..?.Untuk bisa bertahan mereka terpaksa mengairi sawahnya hanya mengandalkan air hujan.Dilematis memang.Belum lagi masalah yang lain.Para petani di kota Denpasar kesulitan untuk menjual hasil pertaniannya karena disamping harganya yang tidak sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan mereka juga kesulitan mencari para pembeli yang akan menerima barang (padi) mereka jika sudah panen.Kalopun ada,paling dijual kepada para tengkulak yang sudah mematok harga dengan harga rendah.Dan malahan kadang tengkulakpun susah mereka cari.Memprihatinkan sekali.

Atas kasus2 seperti itu terasa aneh juga kalo kita terlalu menyalahkan para petani terutama di daerah perkotaan bila mereka harus merubah lahan pertanian mereka menjadi lahan yang bisa lebih produktif untuk mereka bisa bertahan hidup ditengah derasnya arus pembangunan yang sudah tidak terkendali seperti sekarang ini.Mereka harus berpikir logis untuk membuat dapur mereka tetap bisa ngebul.Kalo sudah tidak produktif mengapa harus di pertahankan?,mungkin begitulah kira2 anggapan yang kini melekat di benak para petani yang ada di perkotaan. Akankah hal seperti ini akan terus hanya menjadi perbincangan atas terus berkurangnya lahan pertanian di Bali?,Sementara para petani tidak pernah mendapatkan solusi atas permasalahan ini?. Mudah2an pemerintah tidak menutup mata atas permasalahan yang dihadapi oleh para petani di kota2 besar khususnya di kota Denpasar. Supaya profesi petani yang kini sudah mulai ditinggalkan kembali dilirik dan bisa menjadi profesi yang menjanjikan.

9 Tanggapan to “Dilema Petani di Kota Metro”

  1. winyo said

    sudahlah bli, lebih baik jual aja semua tanah – tanah sawah itu. ga ada manfaatnya juga buat para petani kok. penghasilan mereka ga sebanding dengan pengeluaran mereka. jual juga semua yang ada di bedugul sana itu sama semua daerah yang ada tebing – tebingnya. sulap aja jadi villa semuanya itu biar bali jadi pulau seribu villa. terus ntar kalo udah ga ada daerah resapan dan terjadi banjir biar pada sadar sama kesalahan mereka.

    pemikiran orang biasa sudah tidak bisa menyadarkan maka kita pasrahkan saja kepada hukuman dari alam.

    Suka

  2. wira said

    bertani memang kini bukan profesi yang menjanjikan, disamping karena predikat pekerjaan rendahan juga karena memang hasilnya rendah.. orang tua saya termasuk masih petani walaupun bukan sawa milik sendiri..

    Suka

  3. ick said

    kalau cuman memberikan uang pada petani [sebagai tanda ikut prihatin] tanpa memikirkan pengairan, subsidi pupuk, dan harga jual gabah, niscaya sawah2 akan hilang dan akan cepat beralih fungsi menjadi beton2 di pinggiran jalan. Ingat juga dengan pajak yang mesti di bayar oleh para petani yang berbanding terbalik dengan penghasilan mereka. [petani nasibmu kini]

    Suka

  4. devari said

    nanti jika semua lahan dah penuh di Bali, maka mereka akan lirik nusa penida biar disulap jadi pulau metro🙂

    Suka

  5. anton said

    patuh gen, bli. aku selalu sedih kalo lihat sawah berubah jd perumahan. tp ya gimana lg. aku jg satu di antara ribuan orang di bali yg mengubah kondisi itu. kalau tidak, mungkin kita harus pindah ke papua yg blm banyak penduduknya.

    Suka

  6. ghozan said

    yah mau gmana lagi bli, wong penduduk semakin hari semakin bertambah. ya emang mesti dibarengi dengan pembangunan perumahan baru. tapi mestinya sih pemerintah memberikan ijin juga tidak segampang itu, mesti dengan analisa dampak lingkungan dan disetujui oleh warga sekitar. semoga aja bali gak jadi kayak jakarta yang penuh sesak itu, kalo ya mungkin kita harus memikirkan mengenai transmigrasi ke pulau lain.

    Suka

  7. Dear ALL:

    Semua opini saya rasa tidak ada yang salah,sekarang kembali ke kitanya aja,mau gimana.Semua tindakan yang kita lakukan tentunya pasti menimbulkan dampak positif atau negatif,dampak jangka pendek maupun jangka panjang.Tinggal kita sendiri yang memilih.

    Suka

  8. Bayu said

    Yth.Bli ADY GONDRONK,
    Salam kenal dulu, dan salam hangat dari Bangkok Thailand.
    Saya tertarik dengan ide tulisan Bli yang berjudul “Dilema Petani di Kota Metro” – (Alih Fungsi Lahan)- walaupun tulisan tersebut belum lengkap dari segi data-data pendukung; Kebetulan, saat ini, saya sedang mengumpulkan beberapa tulisan dari beberapa aktifis kaum muda Bali — yang mempunyai kepedulian terhadap perkembangan Bali (sama seperti aktifitas blogger Bli Ady saat ini). Ada kira-kira 10 s/d 12 tulisan (dengan topik yang beragam, semua berbicara seputar Bali) yang akan saya kemas/terbitkan menjadi sebuah buku.

    Melalui kesempatan ini, (kalau boleh saya minta tolong) bagaimana kalau saya minta ijin Bli Ady agar bisa ikut nyumbang tulisan tersebut diatas (menjadi salah satu topik dalam buku yang akan saya terbitkan).

    Mohon tanggapannya.

    Terima kasih atas perhatiannya
    Salam

    Bayu Susila
    JGSEE – KMUTT
    Bangkok Thailand
    email: bayusus@hotmail.com

    Suka

  9. Dear Bli Bayu,

    Trims udah mampir di Baliage.
    Salam kenal dan salam hangat pula dari Bali,
    Tulisan saya ini merupakan cerminan dari keprihatinan saya melihat kondisi Bali pada umumnya dan Denpasar pada khususnya yang sudah semakin berkurang lahan pertaniannya,namun saya akui kelemahan tulisan saya ini karena tidak dilengkapi dengan data pendukung dan hanya menguraikan secara deskriptif saja sesuai pengamatan saya langsung di lapangan.

    Saya mengucapkan terima kasih atas undangan bli bayu untuk menjadi kontributor untuk penerbitan buku yg bli bayu buat.Bila menurut bli bayu tulisan yg ada di Baliage ini cocok dan relevan untuk mewakili aspirasi kaum muda atau masyarakat bali saya tidak keberatan bila tulisan saya ini di ambil untuk dijadikan sebuah buku yg bli bikin.

    Saya sangat mendukung sekali dengan rencana yang bli bayu buat,semoga buku itu bisa segera terbit dan nantinya bisa memberikan sumbangan pemikiran untuk masyarakat Bali.
    trims

    Best Regards
    Ady Gondronk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: