Arsip Kategori: Budaya

Tradisi Mekotek Di Desa Munggu


Setelah sekian lama meninggalkan dan menelantarkan rumahku ini,akhirnya aku kembali juga.Kali ini aku ingin berbagi cerita yang aku dapat dari temanku.Ini mungkin agak telat sih,tapi tidak mengurangi makna dari apa yang ingin aku tulis disini.Cerita ini aku dapat dari teman ketika aku berkunjung ke rumahnya waktu manis kuningan. Oya, Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan ya buat para pembaca yang merayakan.Ga papakan telat daripada ga sama sekali.hehehe.. Sekalian juga selamat menunaikan ibadah puasa buat yang merayakan.Lanjut…Ini tentang tradisi di desanya yang masih lestari sampai sekarang. Ceritanya begini…(wuih..adi serius sajan nok)

Selain pemandangan alamnya yang sangat mempesona,terbukti dikenal sampai ke seantero dunia,Bali masih menyimpan kekayaan tradisi dan budaya dari nenek moyang kita yang masih lestari sampai sekarang.Salah satunya seperti Gerebek Mekotek atau sering disebut Mekotek di Desa Munggu, Kabupaten Badung yang masih tetap lestari sampai sekarang yang dirayakan khusus di hari raya kuningan.(namanya lucu ya…!!??). Prosesi gerebek mekotek ini diikuti oleh 12 banjar setempat di desa Munggu.

Gerebek Mekotek adalah Lanjutkan membaca Tradisi Mekotek Di Desa Munggu

Iklan

Menikah Bertiga di Jaman Modern


Tidak bisa dipungkiri menikah merupakan salah satu keinginan dari seorang manusia normal, termasuk saya sendiri. Disamping untuk meneruskan keturunan, menikah juga bertujuan untuk mencari seorang yang bisa diajak sebagai pelengkap dalam hidup, dalam artian untuk bisa saling berbagi dalam suka maupun duka. Kita sebagai makhluk sosial tidak mungkin kan kita hidup tanpa bantuan orang lain?. Menikah adalah sesuatu yang sakral dan sedapat mungkin itu hanya dilakukan sekali seumur hidup?, Kecuali kalo kepepet…hehe 😆

Melihat ritual pernikahan di jaman modernisasi seperti sekarang ini khususnya di Bali sepertinya nilai-nilai kesakralannya sudah mulai agak bergeser dari tatanan budaya kehidupan masyarakat Bali (ini menurut pandangan saya loo, ngga tahu kalo pembaca gimana). Kalo dijaman dulu sebelum yang bersangkutan resmi menikah mereka tidak diperbolehkan Lanjutkan membaca Menikah Bertiga di Jaman Modern

Entil,Makanan Tradisional Wongaya Gede


entil1web.jpgBagi masyarakat Desa Wongaya Gede tempat kelahiran saya, hari raya Nyepi selain identik dengan perayaan pawai Ogoh-ogoh pada hari pengerupukan dan melakukan penyucian diri satu hari setelah hari pengerupukan, juga hari raya Nyepi di Desa Wongaya Gede selalu identik dengan makanan khas tradisionalnya yaitu “entil”. Entil merupakan makanan tradisional masyakarat Desa Wongaya Gede yang dibuat khusus pada saat Hari Raya Nyepi yang jatuh satu tahun sekali.

Entil adalah makanan tradisional sejenis ketupat yang dibuat dari beras yang dibungkus daun.(kalo orang di desa saya bilang namanya “daun nyelep “atau “daun telengidi “, ga tahu in Indonesianya what?). Digunakannya daun untuk membungkus bertujuan supaya Lanjutkan membaca Entil,Makanan Tradisional Wongaya Gede